Berbagi Bersama Dokter Tanaman

Kamis, 03 Januari 2013

Karakteristik Tanah Vertisol


Tanah vertisol ini memiliki lapisan solum tanah yang agak dalam atau tebal yaitu antara 100-200 cm, berwarna kelabu sampai hitam, sedang teksturnya lempung berliat sampai liat.  Kandungan liat tanah vertisol ini mempunyai tinggi lebih dari 30% pada seluruh horizon, dengan sifat mengembang dan mengkerut. Dimana pada keadaan kering tanah mengkerut menjadi pecah-pecah dan sebaliknya saat basah tanah mengembang  dan lengket. Retakan-retakan tanahnya pada saat kering ini lebarnya bisa mencapai 25 cm dan dalamnya bisa mencapai 60 cm dan keras berbongkah-bongkah. 

Tanah vertisol mempunyai kemampuan meremah sendiri (self churning) dan humus menunjukkan adanya timbulan mikro gilgai, cermin sesar, dan struktur tanah berbentuk baji berukuran sangat kasar. Kurang lebih tanah yang ekuivalen adalah tanah lempung margalitik, grumosol, regurs, tirs, dan tanah kapas hitam.
Tanah Vertisol akan mengalami retak-retak saat musim kering
Hardjowigeno menyatakan bahwa faktor penting dalam pembentukan tanah ini adalah adanya musim kering di setiap tahun, meskipun lama musim kering tersebut bervariasi. Di daerah yang paling kering, tanah hanya paling basah selama beberapa minggu setiap tahun.

Struktur tanah vertisol adalah keras dibagian atas dan gumpal dibagian bawah, dengan konsistensi teguh atau keras kalau kering. Batas horizon dari susunan horizon AC ini adalah agak nyata, tetapi tidak terdapat horizon aluvial dan iluviasi.

Kandungan bahan organik lapisan tanah atas pada umunya rendah, yaitu 1-3,5 persen. Semakin kebawah semakin menurun. Reaksi tanah dapat dilihat dari pH-nya antara 6,0-8,0 yaitu asam agak alkalis. Kandungan unsur hara banyak tergantung pada bahan induknya, yaitu bahan induk dari mergel atau napal, batu liat dan tuf vulkan. Yang berasal dari batu liat dan mergel umumnya lebih miskin, sedangkan dari tuf vulkan relatif lebih kaya. Mineral liat pada tanah ini adalah dari golongan monmoriolit. Daya menahan air cukup baik, sedangkan permeabilitasnya cukup lambat dan sangat peka terhadap bahaya erosi
.
Secara umum dapat disebutkan bahwa tanah ini memiliki sifat-sifat fisik dan kimia yang agak jelek sampai sedang. Oleh sebab itu nilai produktivitas tanahnya rendah sampai sedang (E. Saifudin Sarief, 1993).
Secara kimiawi Vertisol tergolong tanah yang relatif kaya akan hara karena mempunyai cadangan sumber hara yang tinggi, dengan kapasitas tukar kation tinggi dan pH netral hingga alkali  (Deckers , 2001)
Tanah vertisol memiliki kapasitas tukar kation yang tinggi. Tingginya kapasitas tukar kation ini disebabkan oleh tingginya kandungan liat yang terbungkus mineral Montmorillonit dengan muatan tetap yang tinggi. Kandungan bahan organik sungguhpun tidak selalu harus tinggi mempunyai kapasitas tukar kation yang sangat tinggi. Kation-kation dapat tukar yang dominan adalah Ca dan Mg dan pengaruhnya satu sama lain sangat berkaitan dengan asal tanah (Lopulisa, 2004). 
Dalam perkembangan klasifikasi ordo Vertisol, pH tanah dan pengaruhnya tidak cukup mendapat perhatian. Walaupun hampir semua tanah dalam ordo ini mempunyai pH yang tinggi. Tapi pada daerah-daerah tropis dan subtropis umumnya dijumpai Vertisol dengan pH yang rendah. Dalam menilai potensi Vertisol untuk pertanian hendaknya diketahui bahwa hubungan pH dengan Al terakstraksi berbeda dibanding dengan ordo lainnya. pH dapat tukar nampaknya lebih tepat digunakan dalam menentukan nilai pH Vertisol masam dibanding dengan kelompok masam dari ordo-ordo lainnya. Perbedaan tersebut akan mempunyai implikasi dalam penggunaan tanah ini untuk pertumbuhan tanaman. Batas-batas antara antara kelompok masam dan tidak masam berkisar pada pH 4,5 dan sekitar 5 dalam air (Lopulisa, 2004). 
Penyebaran tanah ini di Indonesia seluas kira-kira satu juta hektar dari barat ke timur, dimulai dari Jawa Tengah terus ke Jawa Timur, Pulau Madura, Nusa Tenggara, dan maluku (E. Saifudin Sarief, 1993).
Tumbuhan penutup tanahnya (vegetasinya) terdiri dari padang rumput, stepa dan savanna. Bisa dipergunakan untuk tegalan, perkebunan tebu, kapas, tembakau, persawahan (padi sawah), tanaman jagung kedelai dan hutan jati (E. Saifudin Sarief, 1993).

Rabu, 02 Januari 2013

Karakteristik Tanah Entisol


Kata “Ent” berarti recent atau baru. Padanan dengan klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial atau Regosol. Tanah jenis ini mempunyai sedikit atau belum banyak perkembangan profilnya sehingga tanah masih muda, baru tingkat permulaan dalam perkembangan tanah. Tidak ada horizon penciri lain kecuali epipedon okrik atau albik. Tanah entisols terjadi pada bahan aluvium yang muda. Kemungkinan ekuivalensinya adalah tanah aluvial, regosol, dan tanah glei humus rendah.  

Tanah ini umumnya mempunyai tebal solum tanah tidak lebih dari 25 cm. Tanah ini berwarna kelabu, coklat atau coklat kekuning-kuningan sampai keputih-putihan. Strukturnya adalah lepas atau butir tunggal, sedang teksturnya pasir sampai lempung berdebu, konsistensinya lepas atau teguh dan keras atau pejal bila memadat. Bahan induknya adalah dari abu vulkan (abu kepundan), mergel atau napal dan pasir pantai. Oleh sebab itu dikenal dengan nama regosol vulkan, regosol mergel dan regosol pasir pantai.

Kandungan unsur haranya banyak bergantung dari bahan induk tadi, tetapi biasanya miskin akan hidrogen. Mengenai reaksi tanah adalah netral, agak asam sampai asam. Tanah regosol vulkan ternyata lebih kaya dari tanah regosol lainnya. Proses pembentukan tanah adalah bersifat alterasi lemah atau tanpa pembentukan. Berhubung dengan keadaan tekstur dan strukturnya demikian, maka tanah ini mempunyai permeabilitas, infiltrasi yang cepat sampai sangat cepat, daya menahan air sangat rendah dan sangat pekat terhadap bahaya erosi.

Produktivitas tanah regosol berpasir kuarsa dan bertekstur pasir kasar umumnya rendah, sedangkan tanah regosol vulkan yang bertekstur agak lepas dan bertekstur lempung umumnya produktivitas tanahnya dari sedang sampai tinggi. 

Vegetasi yang tumbuh pada tanah entisol umumnya hutan tropis, belukar, savanna, stepa, dan padang alang-alang. Apabila diberikan pemupukan dengan bahan organik dan penyediaan pengairan yang cukup, maka tanah ini bisa untuk persawahan, palawija, sayur-sayuran, perkebunan (tembakau, tebu) dan lain-lain.

Tanah Entisol ini penyebarannya terutama di daerah-daerah aliran lahan vulkan (dari letusan gunung api) yang berbentuk kipas menyebar, yaitu hampir diseluruh kepulauan Indonesia, terutama Jawa, Sumatera dan Nusa Tenggara. Luas keseluruhan lebih dari tiga juta hektar. Tanah ini terdapat diwilayah yang berombak, bergelombang hingga bergunung dengan berbagai ketinggian, yaitu dari 0 sampai beberapa ribu meter diatas permukaan laut. Tanah ini juga terdapat dengan tipe iklim bervariasi, sehingga curah hujannya juga bervariasi. 

Selasa, 01 Januari 2013

Karakteristik Tanah Alfisol

Tanah alfisol merupakan morfologi yang khas dari Alfosol dicirikan oleh horizon eluviasi dan iluviasi yang jelas, yang mana horizon permukaan umumnya berwarna terang karena dipengaruhi oleh beberapa jenis mineral seperti kuarsa yang dapat mempengaruhi warna tanah Alfisol lebih terang. 

Pada tanah ini terdapat penimbunan liat di horizon bawah (argilik) dan mempunyai kejenuhan basa lebih dari 35% pada kedalaman tanah 180 cm dari permukaan. Tanah ini mempunyai epipedon okrik dan horizon argilik dengan kejenuhan basa sedang sampai tinggi. Pada umumnya tanah tidak kering. Tanah yang ekuivalen adalah tanah half-bog, podsolik merah-kunin, dan planosols.

Tanah alfisols ini mempunyai solum yang cukup tebal, yaitu antara 90-200 cm. Warna tanah adalah coklat sampai merah. Tekturnya agak bervariasi dari lempung  sampai liat, dengan struktur gumpal sampai gumpal bersudut, sedangkan konsistensinya adalah gembur sampai teguh. 

Kandungan bahan organik umumnya rendah sampai sangat rendah. Pada  horizon A atau lapisan tanah atas mengandung paling tinggi 3 persen. Reaksi tanah yang dicirikan dari nilai pH sekitar 6,0-7,5 adalah netral. Kadar unsur hara yang terkandung umumnya tinggi, tetapi banyak tergantung pada bahan induknya. Tanah ini disebut juga tanah kapur merah atau red lateritic limestone soil, bahan induknya adalah batu kapur, batu endapan dan tuf vulkan. Daya menahan air adalah sedang, begitu pula permeabilitasnya sedang. Air pada tanah ini kadang-kadang merupakan faktor pembatas.

Kepekaan terhadap bahaya erosi pada tanah Alfisol ini adalah sedang sampai besar. Tanah ini mempunyai sifat-sifat fisik yang sedang sampai baik, sedang sifat-sifat kimianya umumnya baik, sehingga nilai produktivitasnya adalah sedang sampai tinggi.

Daerah penyebaran tanah Alfisol ialah diseluruh Kepulauan Indonesia, terutama di Sulawesi Tenggara dan Selatan, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, juga terdapat sedikit-sedikit di Jawa Tengah dan Jawa  Timur. Luas seluruhnya secara kasar kira-kira 15, 5 juta hektar.

Penggunaan tanah Alfisol adalah persawahan (padi), baik yang tadah hujan atau pengairan, perkebunan (buah-buahan), tegalan dan padang rumput.

Mencegah Erosi pada Tanah


      Cara-cara pencegahan erosi melalui usaha konservasi tanah dan air yang sering dilakukan adalah dengan cara teknis mekanis dan vegetasi atau kultur teknis. 

        Pada usaha konservasi dengan teknis mekanis yang perlu dibuat adalah teras dan saluran pembuangan air. Fungsi bangunan tersebut ialah memperlambat aliran permukaan dan menampung serta menyalurkan aliran air  permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak. 

         Pembuatan teras adalah untuk mengubah permukaan tanah miring menjadi bertingkat-tingkat untuk mengurangi  kecepatan aliran permukaan dan menahan serta menampungnya agar lebih banyak air yang meresap kedalam tanah melalui proses infiltrasi.

Ada empat macam teras yang dapat dibuat pada tanah miring yaitu:
1. Teras datar, biasanya dibuat pada tempat-tempat dengan curah hujan yang rendah, kemiringan tanahnya paling besar 3% dan mudah menyerap air.
2. Teras kredit, umumnya diterapkan pada tempat-tempat yang tanahnya sulit menyerap air, kemiringan tanahnya 3-10% dan curah hujannya tinggi. Tujuannya terutama untuk mempertahankan kesuburan tanah. 
3. Teras guludan, dibuat pada tempat-tempat  dengan kemiringan tanah 10-50% dan dilengkapi dengan saluran pembuangan air disepanjang bagian atas guludan. Tujuannya ialah untuk mengurangi kecepatan air yang mengalir bila turun hujan, sehingga erosi dapat dicegah dan peresapan air kedalam tanah dapat diperbesar.
4. Teras bangku, dibuat pada tanah-tanah dengan kemiringan 10-30%. Teras bangku memiliki bidang olah yang dibuat miring 1% ke arah dalam serta dilengkapi dengan saluran air yang letaknya disebelah dalam bidang olah teras. 

          Saluran pembuangan air merupakan bagian yang harus ada bila teras guludan atau teras bangku dibuat pada tanah miring. Pembuatannya dengan arah memotong garis kontur. Bila keadaan memungkingkan, saluran pembuangan air ini ditempatkan pada saluran alam yang ada. 

     Pada saluran-saluran pembuangan air, biasanya dibuatkan bangunan terjunan secara bertingkat, mulai dari bagian atas sampai ke bagian  terbawah dengan permukaan yang datar.  Deretan bangunan terjunan ini berfungsi untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan mencegah terbentuknya jurang-jurang yang dalam pada saluran pembuangan. Bangunan terjunan dapat dibuat dari bambu atau batu kali. 
       
       Usaha konservasi tanah dan air secara vegetatif atau kultur teknis ialah dengan melakukan penanaman berbagai jenis tanaman. Fungsi tanaman tersebut adalah untuk melindungi tanah terhadap daya tumbukan butir-butir air hujan yang jatuh, melindungi tanah terhadap daya perusak aliran air diatas permukaan, dan memperbaiki penyerapan air oleh tanah.
Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:
1. Sisa-sisa tumbuhan sebagai penutup tanah. Pembenaman sisa-sisa tanaman kedalam tanah akan meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air dan memelihara keseimbangan unsur hara tanah. 
2. Penanaman tanaman penutup penutup tanah. Tumbuh-tumbuhan yang dapat berfungsi sebagai penutup tanah dapat digolongkan kedalam tiga jenis:
  • Tumbuhan penutup tanah tinggi atau tanaman pelindung, seperti Albizzia falcata Backer dan Leucaena leucocephala (lamtoro gung).
  • Tumbuhan penutup tanah sedang, berupa semak seperti beberapa tanaman leguminosa (kacang-kacangan).
  • Tanaman penutup tanah rendah seperti Colopogonium muccoides Desv. . Centrosema pubescens Benth. dan beberapa jenis rumput-rumputan, misalnya akar wangi, rumput gajah, dan rumput benggala. Beberapa rumput makanan ternak dapat ditananam pada lahan kering untuk konservasi tanah dan air. Bila lahan kering tersebut datar, rumput dapat ditanam tersendiri atau sebagai sisipan diantara tanaman lainnya. Untuk tanah miring yang berteras, rumput tersebut bisa ditanam pada bagian tepi teras atau pada tampingan teras. Contoh rumput makanan ternak yang bak ditanam antara lain rumput gajah, rumput benggala, rumput signal, dan rumput setaria. 

3. Pergiliran tanaman. pergiliran tanaman adalah sistem pertanaman berbagai tanaman secara bergilir dalam urutan waktu tertentu pada sebidang tanah. Pada lahan kering yang berlereng atau tanahnya miring, pergiliran yang efektif untuk pencegahan erosi adalah tanaman penghasil bahan   pangan dengan tanaman penutup tanah atau pupuk hijau. 
Selain mencegah erosi, keuntungan lain dari pergiliran tanaman adalah:
a) Memberantas hama dan penyakit melalui pemutusan siklus hidupnya.
b) Memberantas tumbuhan pengganggu atau gulma.
c) Mempertahankan sifat-sifat fisik tanah dengan cara mengembalikan sisa –sisa tanaman kedalam tanah.

4. Penanaman tumbuh-tumbuhan dalam jalur. Penanaman dalam jalur (strip cropping) adalah suatu sistem bercocok tanam  dengan cara beberapa jenis tumbuhan ditanam dalam jalur-jalur yang berselang-seling  pada sebidang tanah dan disusun memotong lereng atau menurut kontur. Biasanya tanaman yang dipergunakan adalah tanaman pangan atau tanaman semusim yang biasa ditanam berbari diselingi dengan jalur-jalur tanaman yang tumbuh rapat berupa tanaman pupuk hijau atau tanaman penutup tanah. Dalam sistem ini, semua pekerjaan pengolahan tanah dilakukan searah dengan jalur, melaksanakan pergiliran tanaman dan penggunaan sisa-sisa tanaman.
5. Penambahan   tumbuh-tubuhan penguat teras. Tumbuh-tumbuhan penguat teras dapat dipilih jenisnya sesuai dengan keinginan para petani. Bentuk tumbuhan penguat teras ini dapat berupa pohon-pohonan atau rumput-rumputan. Tumbuh-tumbuhan yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah sebagai berikut:
a) Mempunyai  sistem perakaran intensif sehingga mampu mengikat tanah.
b) Tahan pangkas, supaya tidak menaungi tanaman utama. 
c) Bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak. 
d) Contoh tumbuhan penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtoro gung, kaliandra, akasia, rumput gajah, rumput benggala, dan rumput setaria. 

Referensi:Sarief, E. Saifudin. 1993. Ilmu Tanah Pertanian. Bandung: Pustaka Buana.