Tinjauan Pustaka Laporan Kesuburan Tanah ~ Berbagi Bersama Dokter Tanaman

Selasa, 10 September 2013

Tinjauan Pustaka Laporan Kesuburan Tanah

Tanah Alfisol

Alfisols merupakan tanah yang telah berkembang dengan karakteristik profil tanah membentuk sekuen horison A/E/Bt/C, yang terbentuk melalui proses kombinasi antara podsolisasi dan laterisasi pada daerah iklim basah dan biasanya terbentuk dibawah tegakan hutan berkayu keras (Tan 2000). Alfisols  juga dapat  terbentuk  dari  lapukan  batu  gamping,  batuan  plutonik, bahan  vulkanik  atau  batuan  sedimen. Secara umum tanah alfisol mempunyai N total rendah, P tersedia sangat rendah dan K tersedia  sedang,  maka  perlu  penambahan  unsur  tersebut  dalam  jumlah  banyak, untuk mempertahankan pertumbuhan tanaman yang optimal (Minardi 2002). 

Pada tanah alfisol, kata “Alf” berarti pedalfer Al-Fe. Tanah alfisol ini juga merupakan tanah yang mempunyai epipedon okrik dan horizon argilik dengan kejenuhan basa sedang sampai tinggi. Pada umumnya tanah alfisol ini berupa tanah tidak kering (Sutanto 2011)

Hendaknya, penggunaan tanah alfisol tidak terus-menerus hanya untuk satu jenis, tetapi dilakukan perputaran jenis tanaman pada lahan yang sama. Awalnya, para ahli beranggapan bahwa perputaran tanaman pada tanah alfisol ini diperlukan agar zat-zat yang menjadi nutrisis untuk tanaman tertentu tidak habis. Habis karena terus dikonsumsi oleh tanaman yang sama, sementara zat lain yang tidak dikonsumsi tetap tidak berguna. Ternyata, hal ini tidak benar justru sisa tanaman tersebut dapat menjadi racun bagi tanaman itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan perputan jenis tanaman pada tanah alfisol mengingat pentingnya tanah alfisol untuk memenuhi kebutuhan pangan kita (Ahira 2010)

Stabilitas agregat tanah (SA03B) untuk Alfisols tergolong mantap, Vertisol tergolong sangat mantap dan Inceptisol tergolong mantap. Menurut Sri Hastuti metode De Boodt ISA hanya cocok untuk penilaian erosi tanah. Amezketa et al. (1996) juga menemukan hal yang sama bahwa stabilitas agregat mantap air (SA03B) tidak menunjukkan adanya korelasi yang nyata terhadap komponen erosi tanah (seperti erosi percik, laju aliran permukaan, laju infiltrasi, dan erosi total). Kondisi ini dapat difahami bahwa dilihat dari selisih nilai yang begitu besar antara stabilitas agregat di atas 2 mm (SA20B) dengan stabilitas agregat di atas 0,3 mm (SA03B) yang mendekati 50%, menunjukkan bahwa agregat yang terbentuk didominasi oleh agregat-agregat yang berukuran kurang dari 2 mm, dan agregat ini bila terlepas mudah terangkut oleh aliran air permukaan (Handayani 2002).
 
Pupuk Cair, Pupuk Kandang, Urea, NPK dan Pupuk SP

Pemberian pupuk organik cair merupakan salah satu cara mengatasi defisiensi unsur hara makro maupun mikro. Pupuk organik cair mengandung berbagai jenis unsur hara dan zat yang diperlukan tanaman. Zat-zat ini berasal  dari bahan organik yang digunakan dalam pembuatannya. Zat tersebut terdiri  dari mineral, baik makro maupun mikro, asam amino, hormon pertumbuhan  dan mikroorganisme. Kandungan zat dan unsur hara harus dalam kondisi  yang seimbang sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman yang baik (Parnata 2004).

Menurut Mayun (2007), pemberian pupuk kandang diharapkan dapat mengatasi kendala-kendala pada tanah daerah pesisir seperti kadar hara dan bahan organic rendah, kapasitas menahan air yang rendah, kesuburan tanahnya rendah, dan kandungan salinitasnya tinggi, dalam rangka upaya meningkatkan produktivitas lahan pesisir. Beberapa pemberian pupuk kandang sapi dengan 30 ton per hektar pada daerah pesisir memberikan pengaruh yang nyata pada pertumbuhan dan hasil umbi per hektar yang semakin meningkat baik pada tanpa mulsa maupun pada pemberian mulsa. Terdapat korelasi yang sangat erat antara kompunen hasil dan komponen pertumbuhan dengan berat kering umbi per hektar.

Pupuk urea merupakan zat yang membantu pertumbuhan tanaman. Pupuk urea dibuat secara kimiawi dengan kandungan kadar nitrogen yang cukup tinggi. Mayoritas pupuk urea yang beredar di pasaran mengandung unsur hara nitrogen (N) dengan kadar 46%, artinya setiap 100 kilogram pupuk urea mengandung 46 Nitrogen didalamnya. Pupuk urea membuat daun tanaman lebih hijau, rimbun dan segar. Nitrogen pada pupuk urea juga membantu daun tanaman lebih hijau dan rimbun sehingga mempunyai banyak klorofil. Dengan klorofil yang melimpah, tanaman akan lebih mudah melakukan fotosintesis (Jaya 2013)

Tersedianya pupuk majemuk NPK diharapkan dapat membantu para petani untuk menggunakan pupuk sesuai kebutuhan tanaman karena komposisi N, P dan K dapat diformulasi berdasarkan uji tanah. Menurut Syafruddin dan Zubachtirodin (2010), rekomendasi pemupukan NPK majemuk 20:10:10 sebaiknya 400 kg/ha diberikan satu kali dan disertai pemberian 100  kg urea/ha. Jika modal terbatas dapat memilih  biaya  produksi  yang termurah yaitu 300 kg NPK majemuk 20:10:10 diberikan 1 kali dan dikombinasi dengan 100  –  200 kg urea/ha.

SP36 adalah pupuk yang mengandung 36% phosphor dalam bentuk P2O5. Pupuk ini terbuat dari phosphate alam dan sulfat. Pupuk SP36 berbentuk butiran dan berwarna abu-abu serta memiliki sifat agak sulit larut ddalam air dan bereaksi lambat sehingga selalu digunakan sebagai pupuk dasar. Reaksi kimia pupuk SP36 ini tergolong netral, tidak higroskopis dan tidak bersifat membakar (Novitan 2002).
 
Kesuburan Tanah

Menurut Purwanto (2007) bahwa upaya yang dilakukan untuk penghambatan nitrifikasi dan peningkatan pemanfaatan Nitrogen adalah dengan mempertahankan jumlah dan diversitas kualitas masukan seresah, sehingga akan meningkatkan imobilisasi NH4+ (substrat nitrifikasi) dan persaingan O2 antara bakteri heterotrof dan bakteri nitrifikasi. Penghambatan nitrifikasi dengan menggunakan seresah kualitas rendah (polifenol, lignin, kandungan C/N rasio tinggi) menghambat nitrifikasi secara tidak langsung yaitu dengan mendorong pertumbuhan mikrobia heterotrof. Dengan penambahan seresah kualitas rendah dapat menghambat pertumbuhan bakteri nitrifikasi yang selanjutnya akan mempengaruhi laju nitrifikasi dan terjadilah proses penghambatan nitrifikasi.

Unsur fosfor (P) sifatnya mobil dalam tanaman, artinya mudah dipindahkan dari bagian daun yang tua ke titik tumbuh. Gejala kekahatan fosfor pada tanaman akan menyebabkan tanaman menjadi kerdil, pertumbuhan akar buruk, kedewasaan terlambat, warna daun hijau kelam, dan muncul warna keunguan misalnya pada jagung. Sebaliknya, Jika P berlebihan meskipun tidak secara langsung meracuni tanaman, akan menyebabkan merangsang pertumbuhan organisme perairan, mempercepat eutrofikasi, dan P tanah yang berlebih meningkatkan pengangkutan P dalam sedimen, serta air limpasan (Yuwono 2010).

Menurut Isrun (2009), Pemberian pupuk cair organik dosis 15 cc/l dan  waktu aplikasi 4 dan 8 MST, dapat meningkatkan  K-tersedia  Entisols sebesar 0,24 me 100 g-1 menjadi 0,52 me 100 g-1, pada aplikasi 3, 6 dan 9 MST K-tersedia tanah cenderung menurun. Penurunan tersebut dapat disebabkan  karena adanya proses pencucian air hujan ataupun run off. Ketersediaan K  dalam tanah sangat tergantung pada penambahan dari luar maupun dari  fiksasi dari tanah itu sendiri. Namun besar kecilnya ketersediaan K untuk  tanaman juga dipengaruhi oleh seberapa besar kehilangan K dalam tanah baik  yang diakibatkan oleh pencucian, terangkut saat panen maupun akibat draenase.

Alternatif usaha untuk memperbaiki atau meningkatkan kesuburan tanah pertanian secara berkelanjutan adalah dengan pemberian bahan organik. Penambahan bahan organik sangat membantu dalam memperbaiki tanah yang terdegradasi,  karena pemakaian pupuk organik dapat mengikat unsur hara yang mudah hilang serta membantu dalam penyediaan unsur hara tanah sehinnga efisiensi pemupukan menjadi lebih tinggi. Selain itu, bahan organik dapat meningkatkan kapasitas tukar kation tanah dan mengurangi kehilangan unsur hara yang ditambahkan melalui pemupukan sehingga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.  Penambahan bahan organik ke dalam tanah dapat dilakukan dengan pemberian   sisa atau limbah tanaman dan kotoran hewan. Pemanfaatan limbah tersebut dapat mengurangi dampak pencemaran lingkungan dan menekan biaya produksi (Hairiah 2000).

Kapasitas tukar kation tanah tergantung pada tipe dan jumlah kandungan klei, kandungan bahan organik dan pH tanah. Kapasitas tukar kation tanah yang memiliki banyak muatan tergantung pH dapat berubah-ubah dengan perubahan pH. Keadaan tanah yang sangat masam menyebabkan tanah kehilangan kapasitas tukar kation dan kemampuan menyimpan hara kation dalam bentuk dapat tukar karena perkembangan muatan positif. Kapasitas tukar kation kaolinit menjadi sangat berkurang karena perubahan pH  menjadi 5,5. Kapasitas tukar kation yang dapat dijerap 100 gram tanah pada pH 7. Kapasitas tukar kation menunjukkan kemampuan tanah untuk menahan kation-kation dan mempertukarkan kation-kation tersebut. Kapasitas tukar kation penting untuk meningkatkan kesuburan tanah maupun untuk genesis tanah (Askari 2011).

Kadar lengas merupakan kandungan air yang terdapat dalam pori tanah. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar lengas yaitu, anasir iklim, kandungan bahan organik dan fraksi lempung tanah, topografi dan adanya bahan penutup tanah (bahan organik maupun anorganik). Fungsi mengetahui kadar lengas tanah dalam pertanian yaitu untuk mengetahui serapan hara serta pernafasan akar tanaman yang selanjutnya akan berpengaruh pada pertumbuhan dan produksi tanaman (Sasongko 2013).

Tanaman Jagung

Jagung merupakan bagian dari sub sektor tanaman pangan yang memberikan andil bagi pertumbuhan industri hulu dan pendorong industri hilir yang kontribusinya pada pertumbuhan ekonomi nasional cukup besar. Pemupukan dengan menggabungkan antara pupuk anorganik dan organik lebih meningkatkan produksi tanaman jagung baik itu panjang tongkol, lingkar tongkol dan bobot pipilan kering. Dengan peningkatan produksi tersebut, maka tanaman jagung menjadi komoditi yang strategis dan bernilai ekonomis serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras (Dewanto et al 2013).

Sebagian besar lahan penanaman jagung di Indonesia berupa lahan kering. Masalah utama penanaman jagung di lahan kering adalah kebutuhan air sepenuhnya tergantung pada curah hujan, bervariasinya kesuburan lahan dan adanya erosi yang mengakibatkan penurunan kesuburan lahan. Selain itu masalah lain di lahan kering adalah memiliki pH dan kandungan bahan organik yang rendah (Adisarwanto 2002).

Menurut isrun (2009), jagung manis yang ditanam pada Entisols sangat tanggap  terhadap pemberian pupuk cair organik, sebagaimana terukur dengan  hasil  bobot  tongkol. Berdasarkan sidik ragam menunjukkan bahwa efek  interaksi pupuk cair dengan waktu aplikasinya, dan efek mandiri keduanya sangat nyata berpengaruh terhadap K tersedia tanah. Ia juga menambahkan bahwa pupuk cair organik dengan waktu aplikasi yang berbeda nyata  memperbaiki sifat kimia (ketersediaan N, P dan K) Entisols dan meningkatkan hasil tanaman jagung manis.

Semakin tinggi takaran pupuk cair semakin tinggi kandungan P-tanah. Pada pertanaman jagung dengan aplikasi pemberian pupuk cair, terjadi peningkatan P-tersedia tanah  disebabkan oleh sumbangan langsung dari P yang terdapat di  dalam pupuk cair tersebut. Selain itu juga memiliki pengaruh tidak  langsung yakni melaui mekanisme dari senyawa organik yang memiliki gugus fungsional asam huimat dan fulvat dapat berperan dalam pertukaran anion P dengan anion asam humat atau fulvat pada kompleks  jerapan  sehingga  P  tersedia  tanah meningkat (Stevenson 1994)

Arnon (1975), mengatakan bahwa hasil tanaman jagung sangat ditentukan oleh produksi bahan kering total tanaman persatuan luas.  Jumlah bahan kering total yang dihasilkan oleh tanaman tergantung pada keefektifan fotosintesa yang dilakukan oleh tanaman yaitu efisiensi dan luasnya daerah asimilasi. Pada tanaman, daun merupakan organ tanaman yang dapat melakukan proses fotosintesa, dan peningkatan luas daun tanaman akan mendukung dalam pencapaian produksi yang optimal.

N, P, K Jaringan Tanaman

Analisis jaringan daun yang diperoleh dari laboratorium dapat digunakan sebagai acuan dalam mendiagnosis status hara dan menentukan rekomendasi pemupukan. Status hara pada jaringan tanaman juga merupakan gambaran status hara dalam tanah. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa konsentrasi suatu unsur hara didalam tanah merupakan hasil interaksi dari semua factor yang mempengaruhi penyerapan unsur tersebut dari dalam tanah (Liferdi 2008).
Jaringan tanaman yang biasa digunakan untuk analisis hara adalah daun. Menurut Leiwakabessy dan Sutandi (2004), ada beberapa tujuan analisis jaringan daun. Tujuan tersebut antara lain untuk mendiagnosis atau memperkuat diagnosis gejala yang terlihat, untuk mengidentifikasi gejala yang terselubung, untuk mengetahui kekurangan hara sedini mungkin dan sebagai alat bantu dalam menentukan rekomendasi pupuk. Optimasi Uji korelasi konsentrasi hara pada daun dengan produksi bertujuan untuk mendapatkan hubungan yang paling baik dari kadar suatu unsur hara dalam daun sampel pada umur tertentu.

Hara dalam tanah yang dapat diserap oleh tanaman hanya dalam bentuk tertentu seperti NO3-, NH4+, H2PO2-, HPO42-, dan K+. Selanjutnya hara tersebut berperan dalam berbagai aktivitas metabolisme. Perubahan hara pada daun tanaman disebabkan oleh perubahan fase pertumbuhan. Hara daun mengalami penurunan pada fase trubus dan fase generatif. Pada fase tersebut hara pada daun mengalami translokasi dari daun tua ke bagian organ yang lebih muda atau untuk pembentukan buah, akibatnya konsentrasi hara pada daun tua berkurang (Hanafiah 2004).

Senyawa nitrogen organik dioksidasi dalam lingkungan asam sulfat pekat dengan katalis campuran selen membentuk (NH4)2 SO4. Kadar amonium dalam ekstrak dapat ditetapkan dengan cara destilasi atau spektrofotometri. Pada cara destilasi, ekstrak dibasakan dengan penambahan larutan NaOH. Selanjutnya, NH3 yang dibebaskan diikat oleh asam borat dan dititar dengan larutan baku H2SO4 menggunakan penunjuk Conway. Cara spektrofotometri menggunakan metode pembangkit warna indofenol biru (Khama 2012).

Analisis kadar N, P, dan K terhadap brangkasan  dan  biji.  Masing-masing jaringan (berangkasan dan biji) didestruksi basa dengan  menggunakan  pengekstrak H2SO4  H2O2. Analisis N menggunakan metode Kjeldahl,  analisis P menggunakan metode spectrometer dan analisis K mengunakan metode flamefotometer. Hasil analisis kadar hara digunakan untuk menghitung serapan hara tanaman dengan mengalikan kadar hara dengan  bobot  kering  brangkasan atau biji (Syafruddin dan Zubachtirodin 2010)

Konsentrasi kandungan K daun berbeda nyata pada setiap umur tanaman. Menurut hasil penelitian Hermanto et al (2011) pada unsur hara K daun dari hasil uji Duncan 5% yang memberikan nilai daun tertinggi adalah daun sampel ke-4 pada umur 5 bulan. Sedangkan nilai korelasi tertinggi antara K daun sampel  ke-3 terhadap produksi bobot kering daun dan bobot asiatikosida diperoleh pada umur 5 bulan. Oleh karena itu bahan diagnostik penetapan kebutuhan pupuk K sebagai bahan untuk analisis hara K daun yang terbaik dilakukan pada umur 5 bulan diposisi daun sampel ke-3.


DAFTAR PUSTAKA
Adisarwanto, T., Y. E. Widyastuti 2008. Meningkatkan Produksi Jagung di Lahan Kering, Sawah dan Pasang Surut. Jakarta: Penebar Swadaya.
Ahira, Anne 2010. Tanah Alfisol. http://www.anneahira.com/tanah-alfisol.htm. Diakses pada 29 April 2013.
Arnon, I 1975.  Mineral Nutrition of Maize. Bern Switzerland: Int. Potash. Ints. Worbloufen.
Askari, Wahyu 2011. Perspektif Kapasitas Tukar kation. http://wahyuaskari.wor dpress.com/about/perspektif-kapasitas-tukar-kation/. Diakses pada 29 April 2013.
Dewanto, Frobel G. dkk 2013. Pengaruh Pemupukan Anorganik dan Organik terhadap Produksi Tanaman Jagung sebagai Sumber Pakan. Jurnal Zootek Vol. 32 (5).
Hairiah dkk 2000. Pengelolaan Tanah Masam Secara Biologi. Bogor: ICRAF.
Handayani 2002. Kajian Struktur Tanah Lapis Olah :  I. Agihan Ukuran dan Dispersitas Agregat. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 3 (1).
Hermanto dkk 2011. Penetapan Bahan Diagnosis Status Hara NPK pada Jaringan Tanaman Pegagan. Jurnal Bul. Littro. Vol. 22 (2).
Isrun 2009. Perubahan Status N, P, K Tanah dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata sturt) Akibat Pemberian Pupuk Cair Organik pada Entisols. Jurnal Agroland 16 (4).
Jaya, Faedah 2013. Tentang Pupuk Urea. http://faedahjaya.com/distributor-pertanian/tentang-pupuk-urea. Diakses pada 29 April 2013.
Khama, Ariedha 2012. Analisis Jaringan tanaman. http://contekancontekan.blogspot.com/2012/02/analisis-jaringan-tanaman.html. Diakses pada 29 April 2013.
Leiwakabessy, F.M. dan Sutandi A 2004. Diktat kuliah pupuk dan pemupukan. Bogor: Departemen Tanah Fakultas Pertanian IPB
Liferdi, R. Poerwanto dkk 2008. Korelasi Kadar Hara Fosfor Daun dengan Produksi Tanaman Manggis. J. Hort 18 (3).
Mayun, Ida Ayu 2007. Efek Mulsa Jerami dan Pupuk Kandang Sapi terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah di daerah Pesisir. Jurnal Agritrop, 26 (1) : 33 - 40
Minardi, S 2002. Kajian Komposisi Pupuk NPK terhadap Hasil Beberapa Varietas Tanaman Buncis Tegak di Tanah Alfisols. Jurnal Sains Tanah Vol. 2 (1).
Novitan 2002. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Parnata, A. S 2004.  Pupuk Organik Cair: Aplikasi dan Manfaatnya.  Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Purwanto, E. Handayanto., D. Suparyogo., dan K. Hairiah 2007. Nitrifikasi Potensial dan Nitrogen-Mineral Tanahpada Sistem Agroforestri Kopi dengan Berbagai Spesies Pohon Penaung. Jurnal Pelita Perkebunan Vol. 23 (1).
Sasongko, Katon 2013. DDIT Kadar Lengas Tanah. http://katonsasongko.wordpress.com/2013/03/05/ddit-kadar-lengas-tanah/. Diakses pada 29 April 2013.
Stevenson, F.J 1994. Humus Chemistry: Genesis, Composition, and Reaction. New York: John Wiley and Sons
Sutanto, Rachman 2011. Dasar-dasar Ilmu Tanah: Konsep dan Kenyataan. Yogyakarta: Kanisius.
Syafruddin dan Zubachtirodin 2010. Penggunaan Pupuk NPK Majemuk 20:10:10 pada Tanaman Jagung. Prosiding Pekan Serealia Nasional hal 174-187. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Maros.
Tan, K. H 1991. Principles of Soil Chemistry (Terjemahan). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Yuwono, Nasih Widya 2010. Fosfor. http://nasih.wordpress.com/2010/11/01 /fosfor/. Diakses pada 29 April 2013.


0 komentar:

Posting Komentar